Golongan Putih

Kami Memilih untuk Tidak Memilih

Lain Dulu, Lain Sekarang ? Apa Bedanya ?

leave a comment »

Oposisi Online – http://www.oposisionline.com

Bukan Karena Bangun Siang

Ujung ibu jari dan telunjuk Megawati saling menempel membentuk bulatan,
tiga jari lainnya
dibiarkan terbuka. Bahasa jari yang oleh pemiliknya sendiri diterjemahkan
sebagai sikap ‘tidak
memilih’ alias berjejer dalam barisan golongan putih (golput).

Catatan sejarah membuktikan, golongan putih muncul justru dari kesadaran
politik.

Ujung ibu jari dan telunjuk Megawati saling menempel membentuk bulatan,
tiga jari lainnya
dibiarkan terbuka. Bahasa jari yang oleh pemiliknya sendiri diterjemahkan
sebagai sikap ‘tidak
memilih’ alias berjejer dalam barisan golongan putih (golput). Jari-jari yang
sama sebelumnya
digunakan untuk menyeka air mata.

Hari itu, Kamis, 22 Mei 1997. Di halaman rumahnya di Kebagusan III, Pasar
Minggu, Jakarta
Selatan, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato dengan suara lantang dan
tegas. Sebagai pribadi,
“Saya tak akan menggunakan hak politik untuk memilih dalam pemilihan umum.

Latar perkara, kita telah mafhum. Kantor Mega di Jalan Diponegoro diserbu
oleh massa yang
disokong otorita keamanan waktu itu dan pemerintah hanya mengakui PDI versi
Soerjadi. Sampai
sekarang pun Mega belum menang untuk menyeret konseptor dan promotor penyerbuan
ke penjara.

Megawati memang memilih tak datang ke bilik suara waktu itu. Tapi, lain
lagi anjuran Mayjen
Theo Syafei, orang dekat Mega. Kata dia, sewaktu menyampaikan orasi di depan 100
mahasiswa
Universitas Petra Surabaya, 1997, kalau mau golput jangan diam di rumah. Nanti
dicoblosi oleh orang
lain.

Datang dan coblosi tiga-tiganya,” ajar Theo. “Itu lebih baik karena
berarti rakyat
menyampaikan protesnya kepada pemerintah lewat pemilu bahwa tak ada wakil rakyat
yang dapat
dipilihnya.” Istilah populer waktu itu, goltus alias golongan tusuk semua.

Cara apa yang dianjurkan untuk golput sekarang?

Jangan tanya ke Theo maupun Megawati. Kalau sekarang ditanya begitu,
salah-salah dituduh
melanggar undang-undang pemilu karena menganjurkan golput memang dilarang.
Walaupun golput telah
muncul sedari pemilu pertama digelar di Indonesia, 1955.

Angka golput paling tinggi malah terjadi pada pemilu pertama yang dikenal
sebagai pemilu
paling demokratis itu. Dari total pemilih terdaftar sebanyak 43.104.464 jiwa,
terhitung 12,34 persen
masuk kategori golput. Pada pemilu awal orde baru, tahun 1971, persentasenya
memang langsung
menurun. Hanya 6,67 persen dari 58.558.776 pemilih terdaftar. Tapi, dari pemilu
ke pemilu
berikutnya, terjadi peningkatan tak kalah tajam. Rata-rata mencapai 2 hingga 2,5
persen. Bila pada
pemilu 1977 golput naik menjadi 8,40 persen periode berikutnya mendekati angka
10 persen. Bahkan
pada pemilu 1999, setelah Soeharto jatuh yang dianggap sebagai penanda
kemunculan reformasi, golput
tetap lebih tinggi dari pemilu 1997. Tercatat 10,40 persen dari sebelumnya 10,07
persen.

Penganjur”jangan memilih” di pemilu pertama orde baru, salah satunya yang
sampai sekarang
dikenal sebagai juru bicara golput, Arief Budiman. Bersama-sama dengan Husein
Umar, Julius Usman,
Imam Waluyo juga Marsillam Simanjuntak dan Asmara Nababan, Arief mendeklarasikan
gerakan moral
bernama Golput. Hari itu, hari Kamis, 3 Juni 1971.

Para pemrakarsa menilai pemilu yang digelar oleh Soeharto sangat jauh dari
demokrasi. Selain
membatasi jumlah organisasi peserta pemilu, dan makin ketahuan pada pemilu 1977
yang hanya
menghadirkan 3 parpol, Soeharto melalui perangkat militernya memaksa warga
negara memilih Golongan
Karya (Golkar). Dan nama golput memang dimaksudkan sebagai ‘berdiri di seberang’
Golkar. Lambang
kampanye golput pun dibuat seperti tanda gambar Golkar. Warna putih tanpa noktah
apapun dalam bidang
segilima yang dialasi dengan banner.

Jalan yang diretas Arief Budiman dan kawan-kawannya itu bergulir ke pemilu
berikutnya. Masih
dengan latar soal yang sama, sistem politik Indonesia tak kunjung membaik. Meski
gerakan moral ini
dianggap kecil, tapi represi pemerintah memperlihatkan kenyataan lain. Golput,
bukan sekedar upil
yang mengganggu jalur pernafasan.

Buktinya, pemerintah Soeharto sampai perlu memenjarakan sejumlah aktivis.
Diantaranya Poltak
Ike Wibowo dan Lukas Luwarso, masing-masing dari Universitas Sultan Agung dan
Universitas Diponegoro
Semarang. Keduanya dianggap bertanggung jawab menggelar unjuk rasa di halaman
Fakultas Sastra
Universitas Diponegoro, 20 Mei 1992. Momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional
yang digunakan oleh
mahasiswa untuk menyikapi rencana pemilu, 9 Juni. Pemilu yang dinilai tak akan
membawa perubahan
apapun bagi Indonesia.

Guliran pemilu berikutnya sama saja.

Mahasiswa Universitas Indonesia, 21 Mei 1997, menggelar perhelatan”Aksi
Putih Menyambut Pemilu
1997″, di kampus Depok. Sekitar seratus mahasiswa mengenakan ikat kepala dari
kain berwarna putih
untuk melambangkan “bendera Golput”. Aksi ini diproklamasikan sebagai puncak
kekesalan mahasiswa
setelah melihat pemilu 1971 – 1992 hanya dimanfaatkan untuk melanggengkan
kekuasaan Golkar.

Aksi serupa terjadi di Malang, Yogyakarta dan Bandung. Di Yogyakarta,
ratusan mahasiswa
berpawai kendaraan sambil mengibarkan bendera putih. Di jalan, mereka tak
diganggu aparat keamanan,
lain lagi di kampus. Gedung Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga
diserbu oleh Satgas
Golkar. Di Bandung, aparat keamanan dari Kodam Siliwangi main adu cekatan dengan
mahasiswa. Mereka
menyita 5 ribu lembar pamflet yang sedianya disebarkan untuk kampanye golput.

Masih pada pemilu 1997, tokoh Oposisi Indonesia, Sri Bintang Pamungkas
mendirikan partai
politik. Namanya, Partai Uni Demokratik Indonesia (PUDI). Alih-alih berkampanye
untuk kemenangannya,
Sri Bintang malah menganjurkan orang untuk golput. Alasan dia, karena
partai-partai peserta pemilu
tetap mencalonkan Soeharto sebagai presiden periode 1998-2003. Anjuran golput a
la Bintang
disampaikan melalui kartu ucapan Hari Raya Idul Fitri. Gara-gara kartu ucapan
golput ini, Jaksa
Agung Singgih memeriksa Bintang, 5 Maret 1997 dan menahan dengan sangkaan tindak
pidana subversif.

Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) mengeluarkan “Pesan Moral”yang
ditandatangani tuju
organisasi pemuda di kalangan NU, kecuali Gerakan Pemuda Anshor. Ketika itu,
sang ketua, Drh Iqbal
Assegaf dicalonkan menjadi anggota DPR dari daerah Jawa Timur. Sementara
Konferensi Wali Gereja
Indonesia (KWI) menerbitkan Surat Gembala Pra Paskah 1997. Isinya, iimbauan
moral kepada para
pemilih untuk mengikuti hati nurani dalam menetapkan pilihan.

Bila merasa tidak terwakili dan yakin dengan suara hati yang jernih dan
kuat, KWI dapat
mengerti kalau hal tersebut mengungkapkan tanggung jawab dan kebebasan dengan
tidak memilih,” kata
Direktur Eksekutif Pelayanan Krisis dan Pelayanan Rekonsiliasi KWI Romo
Ismartono kala itu.

Seruan Golput juga muncul melalui kampanye di internet yang menamakan diri
situs Golput, 6
Maret 1997. Di luarnegeri, Perhimpunan Pemuda Indonesia (PPI) Jerman dan API
Indonesia, 20 Mei 1997,
menyuarakan suara senada.

Hari ini? Juru bicara Golput, Arief Budiman, menilai proses demokrasi yang
terjadi masih jauh
dari harapan. Tapi, “Saya berpendapat, bergolput saat ini hukumnya ‘tidak wajib’
seperti saat kita
bergolput pada tahun 1971.

Alasan Arief, tahun 1971 partai-partai yang tak disukai pemerintah
dilarang berdiri atau
didirikan kembali. Sekarang, partai-partai berhak berdiri tanpa halangan
sepanjang memenuhi kriteria
administratif. Maka, kata dia, tak wajib memboikot pemilu 2004. “Cuma, kalau
amteri yang akan
dipilih kita anggap di bawah standar, apa boleh buat. Golput menjadi halal,”
tandas Guru Besar
Kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Australia, ini.

Curi start kampanye, ijazah palsu, Golkar yang jadi lawan golput tetap
eksis dan bisa merayu”
aktivis mahasiswa penumbang Soeharto ikut di bawah payung beringin, apa materi
yang ada masih
memenuhi standar? Mari menghitung hari.

Airlambang | Andy Lala Waluyo

Written by golonganputih

27 Maret 2008 at 7:49 pm

Ditulis dalam Artikel

Selamat Datang di GOLONGAN PUTIH

with one comment

“Kami Berfikir Maka Kami GOLPUT !!!”

Adakah ParPol yang bener-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat serta peka terhadap permasalahan bangsa ini???

Adakah tokoh PARPOL yang benar benar nyata berpihak pada kepentingan bangsa???

Benarkah parpol adalah alat yang semata-mata di gunakan untuk mencapai tampuk kekuasaan di negara ini untuk memperjuangkan kepentingan pribadi golongannya???

Sudah adakah sumbangsih yang nyata dengan adanya parpol saat ini???

Bagai mana pendapat anda tentang pemilu yang ada di bangsa ini? apakas sudah aspiratuf? atau hanya ajang kepura-puraan supaya terlihat demokratis???

siapa saja yang di untungkan oleh Pemilu dan Parpol selama ini? masyarakat kah? negara kah? anda kah? atau siapa???

beribu pertanyaan akan kita bahas dalam memperbincangkan kenapa harus GOLPUT…

Written by golonganputih

27 Maret 2008 at 7:28 pm

Ditulis dalam Tentang Kami

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.